Periksa 7 Saksi Kasus Kremasi Rp 80 Juta, Ditemukan Praktik Percaloan

  • Whatsapp
Periksa 7 Saksi Kasus Kremasi Rp 80 Juta, Ditemukan Praktik Percaloan

SuratKabar.my.id – Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat masih mendalami kemungkinan ada tidaknya unsur pidana dalam kasus kartel kremasi. Sejauh ini, penyidik sudah meminta keterangan dari 7 saksi.

Read More

“Sampai saat ini kami telah memanggil sebanyak 7 orang saksi terkait kasus dugaan praktik kartel kremasi yang sempat viral di Jakarta Barat,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo saat dikonfirmasi, Sabtu (24/7).

Ady menuturkan, sejauh ini belum ada tersangka dalam kasus ini. Semua yang diperiksa berstatus sebagai saksi. “Ketujuh orang tersebut kami panggil untuk dimintai keterangan terkait adanya dugaan praktik kremasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono menambahkan, ketujuh saksi berasal dari beberapa latar belakang. Mereka diminta keterangan sesuai kapasitasnya masing-masing.

“Ketujuh orang saksi tersebut kami mintai keterangan yang terdiri dari 2 orang pengelola Yayasan Mulia di Jakarta Barat, 1 orang pengelola krematorium Mulia di Karawang, dan 1 orang pembuat narasi viral serta
3 orang saksi terkait lainnya,” jelas Joko.

Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Joko, dalam kasus dugaan kartel praktik kremasi tersebut petugas memperoleh adanya dugaan praktik percaloan. “Namun masing-masing berdiri sendiri tidak terorganisir seperti kartel. Mereka modusnya menaikan harga dengan motif memperoleh keuntungan,” jelasnya.

Joko menyatakan, petugas juga melakukan konfirmasi terkait narasi dan foto nota adanya dugaan kartel kremasi terhadap penyebar narasi tersebut. “Kami konfirmasi yang bersangkutan tidak adanya kecocokan atau informasi yang tidak saling berkaitan,” pungkas Joko.

Baca Juga  Sehari Kasus Covid-19 Tambah 1.624 Orang, Kematian 87 Jiwa

Sebelumnya, Wakil Sekjen DPP PSI, Danik Eka Rahmaningtiyas mendapat laporan bahwa untuk kremasi di Jabodetabek, misalnya, biaya sudah mencapai Rp 45 juta sampai Rp 55 juta. Bahkan ada yang minta Rp 80 juta. “Padahahal, dua-tiga bulan lalu, paket kremasi hanya sekitar Rp 10 juta. Kami paham soal hukum permintaan dan penawaran,” jelasnya.

“Tapi, selayaknya ada intervensi pemerintah agar harga tidak naik gila-gilaan,” kata Danik dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta membantah petugasnya menjadi calo dan memberi imbauan ke yayasan kremasi soal biaya kremasi jenazah Covid-19 yang mencapai Rp 45 juta sampai Rp 65 juta.

“Mengimbau kepada Yayasan Kremasi agar bersurat ke RS terkait penjadwalan kremasi beserta tarifnya. Sehingga, tidak terjadi tawar-menawar di lapangan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab/oknum yang merugikan masyarakat,” kata Kadis Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Suzi Marsitawati dalam keterangan tertulis, Minggu (18/7).

Saat ini, 3 krematorium swasta di Jakarta tidak melayani kremasi jenazah Covid-19. Tiga krematorium itu adalah Grand Heaven, Pluit; Daya Besar, Cilincing; dan Krematorium Hindu, Cilincing. Dengan demikian, warga Jakarta yang ingin mengkremasi jenazah keluarga yang meninggal karena Covid-19 harus membawa jenazah itu ke luar kota.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan

Related posts