OJK Sebut Restrukturisasi Kredit Semakin Turun

  • Whatsapp
OJK Sebut Restrukturisasi Kredit Semakin Turun

Suratkabar.my.id – Tren restrukturisasi kredit semakin turun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa nilai outstanding Februari lalu turun menjadi Rp 823,72 triliun. Pada Desember lalu, nilainya masih berkisar Rp 830,38 triliun. Selain itu, rasio prudential sektor jasa keuangan masih terjaga.

Read More

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menuturkan bahwa turunnya nilai restrukturisasi kredit sejalan dengan berkurangnya jumlah debitur. Dia menganggap program relaksasi berkontribusi besar dalam menekan tingkat kredit macet. Baik dari perbankan maupun perusahaan pembiayaan.

’’Sehingga stabilitas sektor jasa keuangan terjaga dengan baik,” ungkapnya kemarin (6/5).

Secara berkelanjutan, OJK akan mengevaluasi keberhasilan proses restrukturisasi. Termasuk memperhitungkan kecukupan langkah mitigasi dalam menjaga kestabilan sistem keuangan. Perpanjangan restrukturisasi kredit juga diberikan secara selektif berdasar asesmen bank.

’’Hal itu dilakukan untuk menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu (membayar),” tegas Wimboh.

Per Maret 2021, perbankan masih menunjukkan kondisi permodalan yang kuat. Capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 24,18 persen. Gearing ratio industri pembiayaan berada pada level 2,03 kali. Sedangkan risk based capital (RBC) asuransi jiwa dan umum masih jauh di atas threshold (ambang batas).

Likuiditas sektor keuangan juga masih longgar. Terlihat dari rasio alat likuid (AL) terhadap non core deposit (NCD) yang mencapai 162,69 persen. Lalu, alat likuid per dana pihak ketiga (DPK) perbankan sebesar 35,17 persen. Selain itu, DPK masih tumbuh 9,5 persen secara tahunan.

Secara bulanan, lanjut Wimboh, kredit perbankan sudah tumbuh 1,43 persen atau berkisar Rp 70 triliun. Bila secara year to date, kredit naik 0,27 persen. Meski secara tahunan, masih terkontraksi 3,77 persen.

Baca Juga  Celios Sebut Pemerintah Tak Cantik dalam Memainkan Gas dan Rem

’’Kami harap akan terus positif pada bulan-bulan berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto memastikan bahwa restrukturisasi kredit tidak mengganggu kinerja perbankan. Hasil riset OJK menunjukkan, restrukturisasi kredit tidak berdampak signifikan terhadap CAR perbankan.

’’Malah berhasil menjaga sektor usaha bertahan serta mulai bergerak lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, Anung mengakui bahwa pertumbuhan aset, DPK, maupun kredit perbankan memang melandai selama pandemi. Sebab, perbankan semakin selektif dalam menyalurkan kredit seiring dengan meningkatnya risiko.

Selain itu, kredit masih terkontraksi lantaran pelunasan dan penghapusan kredit lebih besar daripada pertumbuhan kredit. Jadi, perusahaan tidak mengambil fasilitas. Tapi, justru mengambil pelunasan.

PROGRES OUTSTANDING RESTRUKTURISASI KREDIT PERBANKAN (PER 30 MARET 2021)

Periode | Kategori | Nominal | Jumlah Debitur

Desember 2020–Januari 2021 | UMKM | Rp 388,3 T | 4.573.635

| non-UMKM | Rp 599,15 T | 1.684.650

Februari–Maret 2021 | UMKM | Rp 310,5 T | 3.895.559

| non-UMKM | Rp 498,24 T | 1.649.891

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Related posts