Melumbung, Tradisi yang Mengusang

  • Whatsapp
alexametrics

SuratKabar.my.id – Persebaran virus SARS-CoV-2 membatasi mobilitas manusia. Karena tidak bisa seenaknya berbelanja untuk mencukupi kebutuhan harian, terutama pangan, strategi untuk menyimpan makanan kembali menjadi bahasan yang menarik. Padahal, sebenarnya Indonesia punya tradisi melumbung. Yakni, menyimpan bahan pangan di lumbung.

Read More

’’Pandemi ini jadi terasa sekali bagaimana kita harus seperti semut yang menimbun makanan di rumah. Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus banyak keluar rumah,” ujar Priyo Pratikno kepada Jawa Pos Jumat (23/7).

Arsitek yang juga pengurus Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) itu menyatakan bahwa setiap daerah di Indonesia kenal melumbung. Tradisi yang juga menjadi cara untuk mempertahankan ketersediaan pangan itu bisa dilakukan secara pribadi atau kelompok.

Sebagai arsitek, Priyo memperhatikan pengaruh tradisi melumbung tersebut pada arsitektur rumah. Suku Minang, misalnya. Sejak zaman nenek moyang, mereka membangun lumbung di halaman depan rumah gadang.

melumbung
ALAMI: Campuran labur dan wortel menghasilkan warna kuning. Warna ungus berasal dari ubi. Warna hijau dari campuran daun kelor dan bayam. (DICKY SENDA FOR JAWA POS)

’’Lumbung-lumbung tersebut dibuat sebagus mungkin. Itu salah satu lambang status sosial,’’ ujarnya. Selain untuk menunjukkan prestise, alasan menempatkan lumbung di depan rumah adalah keamanan.

Baca Juga  Pulihkan Pariwisata Domestik, Traveloka Kembali Gelar EPIC Sale

Related posts